oleh

Tumbang Usai Suntik Vaksin, Apa Penyebabnya?

MEDIARESMI.COM | Rasa mual, muntah, pusing, sesak hingga tumbang dan harus mendapat perawatan usai mendapat suntikan vaksin covid-19, hal ini mungkin dialami oleh beberapa orang, seperti yang terjadi di Kota Lhokseumawe, Simeulue dan Aceh Selatan.

Lantas, apa penyebab hal itu bisa terjadi?

Fahmy M Al Asyi, salah seorang perawat yang juga anggota Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kota Banda Aceh, dalam tulisan yang dikirim ke Wartawan MEDIARESMI.COM, beberapa hari lalu menjelaskan alasannya.

Menurutnya, rasa mual dan muntah, pusing, hingga sesak nafas sesaat setelah divaksin merupakan kejadian lumrah terjadi karena gangguan Psikosmatik. Seperti yang disampaikan oleh Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Aceh, dr. Safrizal Rahman, Sp.OT dalam tulisan berjudul “Nestapa Nakes di Aceh, Sudah Ditinggal Dihujat Pula”.

Menurut Fahmy, tulisan itu diulas di beberapa media online bahwa peristiwa yang menimpa warga yang baru menerima suntikan vaksin itu karena terkena gangguan Psikosomatik.

Apa itu gangguan Psikosomatik?

Mengutip dari website Alodokter, menjelaskan bahwa gangguan psikosomatik adalah keluhan fisik yang timbul yang dipengaruhi oleh pikiran atau emosi. Munculnya keluhan psikosomatik pada seseorang biasanya diawali masalah kesehatan mental yang dialaminya, seperti takut, stres, depresi, atau cemas.

Beberapa gejala yang mungkin muncul pada orang yang mengalami gangguan psikosomatik seperti sakit perut atau nyeri ulu hati, sakit punggung, sakit kepala, mudah lelah, nyeri otot, sesak nafas atau asma, nyeri dada, jantung berdebar kencang, telapak tangan berkeringat, dan mual muntah.

Orang dengan gangguan psikosomatik, baik orang dewasa maupun anak-anak, umumnya dapat dikenali beberapa tanda seperti cenderung merasa khawatir berlebih meski keluhannya tergolong ringan.

Fahmy menjelaskan, keluhan psikosomatik umumnya muncul pada saat di bawah tekanan atau saat beban pikiran meningkat, dan pola munculnya keluhan fisik biasanya dipicu oleh stres dan seringkali terjadi secara berulang.

“Ketika kecil hingga lulus SMA saya sendiri selalu mengalami gangguan psikosomatik, gangguan yang saya alami dahulu yaitu ketika naik mobil pasti akan mengalami mual muntah,” ujar Fahmy.

Dia menuturkan, hal ini terjadi karena sebelumnya sudah lebih dulu khawatir atau stres yang berlebihan sebelum naik mobil, sehingga gangguan psikosomatik akan terus-terusan terjadi karena otak sebagai pusat kontrol telah membentuk persepsi seperti yang dikhawatirkan, selanjutnya secara tidak langsung otak akan memberikan perintah.

“Saat saya menempuh pendidikan sebagai calon tenaga kesehatan, saya mengetahui bahwa gangguan yang saya alami karena faktor psikis, sehingga setiap kekhawatiran itu terjadi saya mencoba menepis persepsi tersebut, dan gangguan psikosomatik yang pernah saya alami dahulu ketika naik mobil tidak lagi pernah terjadi hingga saat ini,” ungkapnya.

“Sama seperti halnya yang terjadi pada siswi Khana, sebelum dilakukan tindakan vaksinasi, Khana sudah mengalami kekhawatiran berlebihan yang menyebabkan psikisnya terganggu, sehingga menimbulkan masalah pada fisik baik mual muntah, pusing dan sesak nafas,” jelasnya.

Fahmy yang diketahui sebagai salah satu perawat yang bekerja di Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin (RSUZA) itu mengatakan bahwa mual muntah dan pusing yang dia alami bukan karena naik mobilnya, begitu juga mual muntah, pusing hingga sesak nafas yang dialami oleh orang yang baru selesai disutnuk vaksin.

“Bukanlah karena disuntik vaksinnya, akan tetapi karena faktor psikis yang terganggu. Sehingga mempengaruhi kondisi fisik dan sebagai tenaga kesehatan kami menyebutnya Gangguan Psikosomatik,” ujarnya.

Dia memaparkan, gangguan Psikosomatik memiliki respon yang bisa berbeda pada setiap orang, ada yang hanya perlu diobservasi, ada yang harus dirawat, dan ada juga yang tidak membutuhkan pertolongan apapun.

“Kejadian-kejadian yang dipengaruhi oleh faktor psikis seperti yang saya utarakan diatas tidak terlepas dari banyaknya informasi yang tidak bertanggung jawab yang tersebar, akhirnya masyarakat meyakini bahwa melakukan vaksinasi atau mau divaksin itu merupakan keputusan yang salah dan vaksin merupakan tindakan berbahaya, hingga akhirnya masyarakat tersugesti di alam bawah sadar,” paparnya.

Dia menuturkan, seharusnya orang yang mau divaksin seperti Khana di salahsatu sekolah SMK Negeri di Lhokseumawe, cukup tenang saja tidak perlu khawatir, agar mengurangi gejala. Yang lain juga diminta tidka ikut panik dengan vaksinasi covid-19.

“Sebenarnya Psikosomatik tidak terlalu berbahaya, apabila penanganannya cepat dan tepat. Yang bahaya adalah pernyataan yang dikeluarkan oleh para pengamat yang mengomentari kejadian tersebut tanpa berdasarkan keilmuannya,” tegasnya.

“Yakinlah, setiap tindakan apapun yang dilakukan oleh tenaga kesehatan sudah sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP), kiat dan keilmuan,” tutupnya.

(Rls)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed