Home > Peristiwa > Terima Dana Hibah Hampir 10 Miliar, BEM Se-Aceh Didesak Bicara ke Publik

Terima Dana Hibah Hampir 10 Miliar, BEM Se-Aceh Didesak Bicara ke Publik

Sebarkan Berita Ini

MEDIARESMI.COM | “Maju kena mundur kena.” mungkin, itulah kalimat yang dapat digambarkan tentang situasi mahasiswa Aceh saat ini pasca beredarnya daftar nama lembaga penerima bantuan dana hibah Rp 100 juta dari Pemerintah Aceh.

Jika sebelumnya mahasiswa dan beberapa organisasi kepemudaan atau lembaga lainnya begitu kerap menyampaikan kritik pedas bahkan unjuk rasa agar Pemerintah Aceh transparan terkait dana APBA 2020 untuk penanganan covid-19, kini mereka justru “membisu”.

Pemberitaan daftar penerima hibah 100 juta itu ibarat “meludah muka sendiri” oleh mereka yang sebelumnya begitu keras mengkritik kebijakan pemerintah. Keputusan Gubernur Aceh Nomor 426/1675/2020 tentang penetapan penerima bantuan dana hibah ibarat buah simalakama bagi para mahasiswa yang namanya komunitasnya dicantum sebagai penerima manfaat uang rakyat saat rekyat sedang melarat.

Aktivis mahasiswa dari Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Sulthan Al-Faraby turut angkat bicara kepada media. Ia meminta kepada seluruh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Aceh segera memberikan penjelasan dan klarifikasi terkait daftar penerima bantuan hibah dari Pemerintah.

“Pada dasarnya, aliansi BEM se-Aceh pada waktu lalu melakukan aksi, salah satunya terkait transparansi dana Covid-19. BEM di Aceh sekarang menjadi sorotan publik dikarenakan masuk dalam daftar penerima dana hibah dari pemerintah,” kata Sulthan pada MEDIARESMI.COM, Jumat 15 Januari 2021.

Agar masalah tidak berlarut, tambah Sulthan, dirinya mendesak agar aliansi BEM se-Aceh segera menyampaikan pernyataan kepada publik, terutama para mahasiswa yang telah lelah berjuang dengan mengorbankan waktu dan tenaga mereka demi kepentingan rakyat Aceh.

“Saya juga merasa ini adalah lelucon. Kok bisa ada nama BEM yang masuk ke dalam daftar tersebut, padahal kemarin mereka (BEM) bersikeras tidak pro pemerintah,” ungkapnya.

Sulthan Al-Faraby yang selama ini dikenal kerap menyampaikan saran-saran baik kepada Pemerintah untuk mengubah suasana menjadi lebih baik demi kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat, mempertanyakan tujuan dan manfaat dari dana hibah yang mencapai 9 miliar lebih kepada mahasiswa.

“Kita tidak permasalahkan soal jumlah dana yang diberikan asalkan jelas bermanfaat, bukan sekedar aksi seremoni, mau 9 miliar kek, 9 triliun kek, tidak masalah. Makanya sekarang kita mempertanyakan manfaat dan urgensi dana tersebut bagi kepentingan rakyat Aceh,” ujarnya.

Pada dasarnya, Aktivis Mahasiswa ini menginginkan agar dana hibah hampir 10 miliar itu tidak digunakan hanya sekedar untuk sosialisasi Covid-19, tapi lebih dimanfaatkan untuk mengadakan pelatihan dan peningkatan kreatifitas generasi bangsa demi mengurangi angka pengangguran.

Memang, Pemerintah Aceh sendiri menghabiskan banyak anggaran untuk sosialisasi bahaya covid-19 kepada masyarakat, baik melalui baliho-baliho besar yang dipasang di hampir sudut kota di Aceh, maupun lewat media massa yang jumlahnya ratusan termasuk media cetak.

Padahal, lanjut Sulthan, jika sekedar untuk sosialisasi bahaya covid-19 kepada masyarakat, para mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) pun mampu melakukannya tanpa menghabiskan anggaran besar hingga mencapai 10 miliar. “Bahkan tanpa mengeluarkan biaya besar,” tutup Sulthan tegas. (R/H)

You may also like
Peroleh Opini WTP ke 6, Gubernur Aceh Ucap Terima Kasih ke BPK RI
Sandiaga Uno dan Gubernur Aceh Bahas Percepat Realisasi Investasi UEA
Pemerintah Aceh Harap Kucuran Dana Otsus Aceh tanpa Batas
Perintah Presiden: Kepala Daerah Segera Belanjakan APBD!

Leave a Reply