Home > Ekonomi Bisnis > Tahun 2021 Masih Suram, Pengusaha Ritel Milih Tutup Toko

Tahun 2021 Masih Suram, Pengusaha Ritel Milih Tutup Toko

Sebarkan Berita Ini

MEDIARESMI.COM | Gara-gara pandemi Covid-19 yang masih menggila di Indonesia, kondisi usaha ritel masih suram memasuki fase awal kuartal I-2021. Karena gerai yang makin tidak menjanjikan, pengusaha ritel pun memilih menutup tokonya.

Seperti disampaikan Ketua Umum Himpunan Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Burihardjo Iduansjah, pengunjung mall selama ini sepi, ditambah lagi dengan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) mulai 11 hingga 25 Januari mendatang.

Pemberlakuan PPKM dianggap semakin memberatkan pelaku usaha penyewa mal termasuk peritel. Adanya aturan tersebut dinilai membuat pengunjung mall semakin sepi, sehingga target pengusaha tidak tercapai.

“Pasti ini signifikan pengaruhnya. Jadi, dengan adanya pembatasan kegiatan masyarakat terutama office 25 persen, dine in 25 persen traffic orang yang datang ke mall akan kurang,” katanya pada CNBC Indonesia TV, Jumat 08 Januari 2021.

Budihardjo mengungkap, saat ini omset tenant penyewa pusat perbelanjaan maksimal hanya 25 persen dari normal setiap harinya. Pelaku usaha hanya punya strategi jangka pendek untuk bertahan, karena perubahan peraturan.

Salah satunya dengan efisiensi yang dilakukan oleh pemilik tenant dengan mengurangi jumlah karyawan yang bekerja dengan sistem shifting dan merubah perencanaan investasi jangka Panjang.

“Mengurangi biaya operasional dan investasi untuk ke depan, kita belum ada bayangan, paling mengecilkan toko. Kalau kurang bagus operasionalnya ditutup. Jadi kalau ada yang buka cabang baru biasanya sudah tutup cabang yang lain karena kurang ramai,” imbuhnya.

Untuk di dalam Pulau Jawa memang banyak negosiasi dengan pusat belanja dengan mengurangi atau menunda biaya sewa. Pihaknya juga mengaku belum ada bantuan dari Pemerintah untuk bertahan di situasi ini.

Jika aturan ini terus diperpanjang, inovasi lain yang dilakukan oleh pelaku ritel dengan merubah model bisnisnya ke digital. Diharapkan ada bantuan dari sektor keuangan untuk memberikan kemudahan pinjaman modal untuk berpindah model bisnis secara daring.

“Pemberian pinjaman modal kerja untuk shifting dalam arti bagaimana didigitalkan atau menjual secara daring atau frozen food,” katanya.

Dalam aturan PPKM yang dilakukan meliputi penerapan bekerja dari rumah work form home 75 persen, Mal dibatasi sampai 7 malam, tempat makan (dine-in) diperbolehkan dengan keterisian 25 persen, tempat ibadah 50 persen fasilitas umum dihentikan, kegiatan sosial dihentikan, serta pengaturan transportasi didaerah masing-masing.

Untuk jangka Panjang peritel masih optimis melihat sektor jualannya termasuk kebutuhan masyarakat. Dia optimis indeks konsumen belanja akan tinggi melihat acuannya pada belanja diskon pada bulan Agustus dan Desember 2020 kemarin serta pelonggaran aturan meningkatkan minat masyarakat untuk berbelanja.

“Tapi untuk jangka pendek susah untuk melihat prospeknya saat ini, yang jelas protokol Kesehatan kami jalankan hingga Covid-19 ini selesai, jadi investasi di bisnis ritel bisa double digit ke depannya,” jelasnya. **

You may also like
Kadisdik Aceh Alhudri Minta Sekolah Gelar Doa Tolak Bala Sebelum Belajar
Banda Aceh Masih Orange, Aminullah Ingatkan Warga Tetap Patuhi Protokol Kesehatan
USK Ingin Kuliah Tatap Muka, Begini Saran Wali Kota Banda Aceh
Waduh! Pemerintah Distribusi Vaksin ke Daerah tapi Belum Izin BPOM dan MUI

Leave a Reply