Home > Polhukam > Pilkada Aceh 2022 Ditunda, Elite Aceh Hanya Pandai Saling Menyalahkan

Pilkada Aceh 2022 Ditunda, Elite Aceh Hanya Pandai Saling Menyalahkan

Sebarkan Berita Ini

MEDIARESMI.COM | Pengamat Politik Aceh Usman Lamreung menilai elite Aceh hanya lihai saling menyalahkan satu sama lain, tapi “loyo” dalam hal lobi dan komunikasi politik di hadapan Pemerintah Pusat.

Hal itu disampaikan Usman Lamreung menanggapi berita penundaan pelaksanaan tahapan dan jadwal Pilkada Aceh tahun 2022, setelah Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh secara resmi mengumumkan penundaan tersebut dua hari lalu.

Alasannya pun sangat mengherankan, yaitu tidak adanya alokasi anggaran dari Pemerintah Aceh untuk mendukung KIP Aceh yang sudah menjadwalkan waktu pelaksanaan Pilkada Aceh tahun 2022.

“KIP Aceh akhirnya menunda tahapan pelaksanaan Pilkada tahun 2022 Provinsi Aceh, karena belum ada kepastian politik pemerintah pusat dan belum ada anggaran dari Pemerintah Aceh,” katanya, Minggu 4 April 2021.

Penundaan tahapan pelaksanaan Pilkada Aceh dengan batas waktu yang belum ditentukan karena harus menunggu keputusan politik pemerintah pusat dan ketersediaan anggaran, membuat publik bertanya-tanya karena terancam tidak mendapatkan haknya pada tahun 2022.

Penundaan tahapan pelaksanaan pilkada 2022 Aceh oleh KIP Aceh, menuai kritik tajam dari publik di Aceh, sebab alasan penundaan sangat tidak realistis belum tersedia anggaran. “Publik sangat kecewa alasan penundaan belum tersedianya anggaran,” katanya.

Magister Ilmu Politik itu menilai Pemerintah Aceh dibawah kepemimpinan Gubernur Nova Iriansyah seperti tidak ada niat yang serius melaksanakan hajatan pesta demokrasi pemilihan kepala daerah di Aceh tahun 2022.

Sebab, kata dia, Pemerintah Aceh tidak mau mengalokasikan anggaran untuk penyelenggaraan Pilkada tahun 2022.

Sampai saat ini, para elit masih memperdebatkan soal pelaksanaan Pilkada dengan UU berbeda. Pemerintah Aceh patuh pada UU Nomor 10 Tahun 2016 Tentang Pilkada Serentak 2024, sementara yang lainnya menginginkan Pilkada 2022 sesuai Undang-Undang Pemerintah Aceh (UUPA).

Memang, Aceh punya aturan khusus UUPA yang mengatur secara khusus pelaksanaan Pilkada Aceh 5 tahun sekali. Perdebatan ini tak kunjung usai dan belum ada restu kesepakatan secara politik dari pemerintah pusat.

“Artinya, komunikasi, lobi dan nilai tawar yang dilakukan oleh DPRA dan Pemerintah Aceh belum mampu menyakinkan Pemerintah Pusat. Sehingga, akhirnya Pemerintah Aceh dan DPRA gagal, tak berdaya. KIP Aceh menunda tahapan Pilkada Aceh 2022 sampai batas waktu yang belum pasti,” jelasnya.

Belum ada keputusan politik pemerintah pusat, tentu juga berpengaruh pada pengusulan anggaran Pilkada, biarpun secara hukum Pilkada Aceh diatur sangat jelas dalam UUPA.

Usman Lamreung menyebut Aceh seperti tidak ada lagi nilai tawar, semakin lemah tak berdaya dalam mempertahankan berbagai kekhususan Aceh.

Pemerintah Aceh dan DPRA juga dinilai hanya mampu beropini, memberi harapan dan krasak-krusuk yang hanya untuk membangun popularitas pada rakyat. Namun, ujungnya tak berdaya ketika berhadapan dengan pemerintah pusat.

Dosen Universitas Abulyatama itu mengharapkan Pemerintah Aceh, DPRA, DPR RI asap Aceh, dan elit politik Aceh lainnya bersama-sama, solid melakukan lobi, komunikasi politik dan harus mampu menjelaskan alasan kenapa Pilkada Aceh mesti dilaksanakan pada tahun 2022.

“Dengan berbagai argumentasi politik, dan hukum. Bila lobi dan komunikasi politik gagal, maka sudah sepatutnya Pemerintah Aceh melakukan uji materi UU Nomor 10 Tahun 2016 ke Makamah Konstitusi,” tegasnya.

“Kekhususan Aceh harus dipertahankan, baik dengan lobi politik membangun nilai tawar dan upaya hukum. Jangan terus Elite Politik berpolemik dan saling menyalahkan, tapi tak ada solusi dan tak ada keberanian berhadapan dengan pemerintah pusat,” tutupnya.

Redaksi

You may also like
Iskandar Usman Al-Farlaky: 163 Guru Pendidikan Agama Islam di Aceh Butuh Perhatian Pemerintah
Gubernur Aceh Sampaikan LKPJ Tahun Anggaran 2020
Seperti Apa Kejelasan Pembangunan Jalan Proyek Multiyears?
Gubernur Aceh Bersaksi di Persidangan Melawan Abu Malaya

Leave a Reply