oleh

Amerika Serikat di Ambang Resesi Ekonomi

MEDIARESMI.COM | Ditengah perang Rusia-Ukraina dan munculnya sanksi-sanksi internasional dari Amerika Serikat dan Eropa kepada Rusia, ekonomi AS justru diprediksi bakal mengalami resesi.

Hal itu disebabkan oleh langkah agresif bank sentral atau Federal Reserve (The Fed) untuk meredam inflasi. Padahal, Kepala Strategi Investasi Bank of America (BofA), Michael Hartnett memperingatkan bahwa lonjakan harga konsumen, dapat memicu penurunan ekonomi di AS.

Ditambah lagi sikap bank sentral semakin hawkish untuk melawan inflasi, yang berada pada level tertinggi sejak 1982. Seperti diketahui inflasi Amerika melonjak ke level tertinggi dalam empat dekade.

Para pembuat kebijakan menaikkan suku bunga sebesar seperempat poin persentase pada bulan Maret. Bahkan, sejak itu mengisyaratkan dukungan untuk kenaikan setengah poin yang lebih cepat pada pertemuan Mei.

Meningkatnya inflasi dan rendahnya pengangguran, pandemi, masalah rantai pasokan, perang antara Rusia dan Ukraina dengan implikasi energi, ditambah gejolak pemilihan di AS dan di tempat lain -seperti Prancis- menjadi sentimen.

Pelaku pasar bahkan memperkirakan lebih dari 80 persen peluang kenaikan suku bunga setengah poin yang besar dan kuat ketika pembuat kebijakan bertemu bulan depan.

“Jika kami menyimpulkan bahwa pantas untuk bergerak lebih agresif dengan menaikkan suku bunga dana federal lebih dari 25 basis poin pada pertemuan atau rapat, kami akan melakukannya,” kata Ketua Federal Reserve Jerome Powell baru-baru ini.

“Jika kami memutuskan bahwa kami perlu melakukan pengetatan di luar tindakan netral yang umum dan menjadi sikap yang lebih membatasi, kami akan melakukannya juga,” tambahnya.

Dikutip Sindonews, Rabu 13 April 2022, beberapa ekonom percaya The Fed menunggu terlalu lama untuk menghadapi ledakan inflasi, sementara yang lain telah menyatakan keprihatinan bahwa bergerak terlalu cepat untuk menstabilkan harga berisiko memicu resesi ekonomi.

Kenaikan suku bunga cenderung menciptakan tingkat yang lebih tinggi pada pinjaman konsumen dan bisnis, yang memperlambat ekonomi dengan memaksa pengusaha untuk mengurangi pengeluaran.

Namun, Powell menolak kekhawatiran bahwa pengetatan lebih lanjut oleh bank sentral akan memicu resesi dan telah mempertahankan optimisme bahwa Fed dapat mencapai keseimbangan yang rapuh antara menjinakkan inflasi tanpa menghancurkan ekonomi.

“Kemungkinan resesi di tahun depan tidak terlalu tinggi,” kata Powell kepada wartawan selama pertemuan Fed Maret, mengutip pasar tenaga kerja yang kuat, pertumbuhan penggajian yang solid dan neraca bisnis dan rumah tangga yang kuat.

“Semua tanda adalah bahwa ini adalah ekonomi yang kuat, dan yang akan mampu berkembang dalam menghadapi kebijakan moneter yang kurang akomodatif,” lanjutnya, dilansir Sindonews.

 

(*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed